"1001 WAJAH BORU BATAK", Written by Anastesi of Story 2022

 
"1001 WAJAH BORU BATAK"

Dokumentasi: Oleh penulis 

Hitam, putih, dan merah adalah sebuah tanda yang mengartikan adanya variabel warna yang berbeda didalam kehidupan. Dalam perjalanan kehidupan, banyak lika-liku yang terjadi didalam setiap serpihan cerita yang ada. Warna hitam umumnya menggambarkan kemisteriusan, keberanian, kekuatan, atau rasa berkabung. Putih sering dianggap baik, meyatakan adanya keadaan selamat dan sejahtera berkat kebijakan, kesucian dan kekuatan Tuhan Yang Maha Esa, dan yang terakhir warna merah, digambar wujud nyatakan sebagai sifat keadilan sejati, kepercayaan yang kuat, kehidupan yang harus dijalani dengan kejernihan dalam berpikir dan bertindak dalam kehidupan yang tidak selalu dapat berjalan dengan mulus. Representasi dari adanya perbedaan warna tersebut adalah bentuk cerminan dari “Ulos Batak” itu sendiri, yang merupakan warna dasar dari ulos yang dipilin menjadi satu.

Sarat kepada mistis dan rahasia kehidupan yang selalu berusaha untuk merujuk kepada kehidupan jujur, sederhana dan seimbang menuju cita-cita. Seorang batak selalu mengacu kepada kesucian. Serta setiap pribadi seorang gadis batak, atau yang lumrah didalam bahasa batak, dipanggil “Boru Batak” memiliki pemahaman akan nilai, norma serta aturan dalam keluarga yang berbeda-beda suka dan dukanya. Tak lebih dan kurang, hal ini dilatarbelakangi oleh kehidupan si boru batak yang tinggal pada wilayah yang berbeda. Dikarenakan kerasnya kehidupan, hubungan sosial yang selalu menginginkan naiknya status sosial, pada umumnya seorang batak akan merantau ke kota. Bahkan tak jarang pula membawa keluarganya, untuk mengadu nasib di kota. Oleh sebab persebaran masyarakat batak asli inilah, melahirkan generasi yang lainnya, memiliki konsep kehidupan yang tidak bisa disamakan. Maka  dari itu, keterbukaan dalam pemikiran bahwa tidak semua boru batak memiliki sifat yang sama, walaupun dikarenakan berasal dari klan yang sama. Mereka adalah si Boru Batak dengan 1001 wajah dengan mencerminkan sifat yang istimewa.

Keistimewaan ini pun dicerminkan oleh seorang boru batak yang tinggal di rura silindung, sebuah kota kecil, bernama  Anthonia Stepanie Simamora. Gadis berusia 18 tahun yang sebentar lagi akan masuk ke universitas. Si boru batak yang memiliki nama versi barat ini tidak lain dan tidak bukan mendapatkan nama tersebut adalah, melalui pemberian dari opung dolinya (kakeknya), yang dulu adalah seorang pendeta yang dikirim gereja untuk menempuh pendidikan dan pelayanan di jerman. Pada saat orang tuanya mengirim surat pada opung dolinya di jerman, lewat surat yang baru bisa sampai dari rura silindung ke jerman selama 3 bulan lamanya, surat tersebut berisi tentang kabar sukacita bahwa cucu pertama dari anak laki-lakinya sudah lahir. Seketika menitikkan air mata saat membaca surat yang ditujukan kepada dirinya itu. Ia berpikir sejak awal kehamilan ibu Anthonia, ia akan mendapatkan cucu laki-laki yang akan dapat meneruskan pekerjaannya menjadi seorang pendeta. “Ya Tuhan, ampunilah aku yang bersedih karena ini”, gumam lelaki tua itu.

Untuk alasan yang lebih dalam pula, opung Anthonia hanya memiliki 1 orang anak laki-laki yang ia harapkan bisa menjadi penerusnya menjadi seorang pendeta. Ayah Anthonia adalah anak kelima dari tujuh bersaudara, sejak masa kecilnya ayah Anthonia selalu diajarkan untuk memiliki hati yang mau melayani serta selalu diajarkan akan nilai-nilai keagamaan yang sangat bernilai luhur. Namun, ayah Anthonia justru memilih untuk menjadi “Petani Berdasi”. “Aku ingin mengubah sistem pertanian di rura silindung, menjadi kepala dinas pertanian masa depan, dan mengusahakan tanah orang susah yang kurang mengerti masalah manajemen pertanian” kata ayah Anthonia kala itu. Oleh sebab itulah, ayah Anthonia kuliah mengambil jurusan pertanian pada salah satu universitas yang jangkauannya masih dekat dengan rura silindung. Karena ia ingin secepat kilat pulang pergi dari rura silindung ke kota tempat ia menempuh pendidikan jika ada urusan membantu masyarakat.

Masa pendidikan di universitas ayah Anthonia, mengubah segalanya dengan keputusannya yang dianggap sebagai suatu tanda perbuatan tidak mengindahkan pesan orang tua oleh opung dolinya. Seketika, hubungan antara anak laki-laki dan bapak itu mulai merenggang layaknya tanah yang gersang tidak mendapat air, walaupun ia sudah meminta pada katak untuk mendatangkan hujan.

Kehidupan si gadis bernama Anthonia itu, seketika berubah menjadi suatu problematika yang menyongsong kedukaan yang berjalan ke arahnya. Saat matahari hendak pulang beristrahat untuk menggantikan siang kepada malam, dan suasana senja yang biasanya ia sukai itu, tiba-tiba menjadi dilema yang mematahkan hatinya berkeping-keping. Saat itu, ia baru saja hendak kembali pulang kerumah dikala baru menyelesaikan “Ujian Nasional” sebagai siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) dan tak sabar untuk menemui orang tua, adiknya yang terpaut beda usia 4 tahun dengannya, juga sang anjing peliharaannya yang bernama “Popo”. Seketika kakinya terpaku ditanah yang hendak ia tapaki, matanya berkaca-kaca dikala melihat ayahnya sudah bersimbah darah dihalaman rumah, serta seluruh tubuhnya lebam oleh banyaknya benda keras yang menghujam tubuhnya.

 Disekitar mayat ayahnya, terdapat gagang cangkul yang matanya sudah lepas, kayu besar yang biasanya digunakan untuk menahan tumbuhan keras, serta anjingnya mengonggong sangat lantang diiringi dengan jeritan kesedihan kepergian majikannya. Masyarakat yang berkerumun ada yang berusaha mengambil foto dan video. Entah untuk disebar kemana. Tidak ada yang berinisiatif untuk memanggil pihak polisi, atau bahkan para aparat pengurus desa. Saat itu, ia hanya ingat bahwa ibu dan adiknya tidak terihat diantara para masyarakat yang berkerumun, seorang polisi yang bernama Torang Sinaga merupakan sahabat ayah Anthonia sejak kecil menariknya untuk masuk ke dalam mobilnya dan membiarkan anggota kepolisian yang lainnya mengamankan tempat terjadinya peristiwa berdarah dalam keluarga Anthonia itu.

Dua hari setelah meninggalnya ayah Anthonia, akhirnya mayat ayahnya dapat dikebumikan, setelah selesai diautopsi oleh pihak penyidik yang menangani kasus pembunuhan berencana terhadap ayahnya. Ibu dan saudarinya saat terjadi kejadian memilukan itu, sedang berada dirumah opung doli dari ayah Anthonia. Ibunya saat itu bingung mengapa ayah Anthonia memintanya dan juga anak gadis terkecilnya untuk bertamu dan membawakan hasil panen ayahnya. Namun, tidak dihiraukan ibunya karena hal itu adalah baik, pikirnya. Sahabat ayah Anthonia yang sudah mengetahui kejadian itu lantas memberitahukan kepada ibu Anthonia dan meminta agar mereka tidak pulang dulu kerumah.

Hari demi hari terlewati, waktu pendaftaran ulang perkuliahan tempat Anthonia akan menempuh pendidikan dtingkat universitas akhirnya tiba. Ia akan menjalani masa pendidikan di suatu universitas yang sangat bergengsi diluar pulau Sumatera. Tak heran mengapa ia ingin kuliah disana, adalah karena ia ingin sekali belajar hal baru diluar pulau Sumatera. Di bandara, ia diantar oleh pak Mukidin, supir pribadi opung dolinya, yang merupakan seorang Jawa asli yang merantau ke Rura Silindung karena pernah bertemu dengan opung Anthonia di Yogyakarta. Diiringi dengan pelukan dan air mata yang tidak dapat terbendung melepas kepergian anak gadisnya, akhirnya ibu Anthonia melepas kepergian putrinya yang sangat dicintai.

Saat di pesawat, Anthonia memanjatkan doa kepada Tuhan, untuk membimbingnya selama masa pendidikannya. Ia berjanji untuk menggapai cita-citanya menjadi penegak hukum yang adil suatu saat nanti. Itulah mengapa ia mengambil jurusan ilmu hukum di universitas. Sikap dingin aparat hukum yang menangani kasus kematian ayahnya dan ketidakjelasan alur proses penyelidikan untuk menemukan siapa pihak yang menjadi tersangka juga menjadi alasan kuat untuk belajar hukum. “Apakah karena kami orang dengan garis ekonomi menengah kebawah? Sehingga kami tidak layak mendapatkan fasilitas keadilan yang layak? Dan kasus ayah tidak jelas jalannya? Aku akan mendapatkan jawabannya”, gumam Anthonia dalam pikirannya yang tidak lagi utuh dalam perjalanannya ke kota orang yang bahkan ia tidak tahu bagaimana nasibnya kedepan.

Selama berjalannya waktu pendidikan Anthonia, ia menunjukkan progres yang sangat berbeda dengan temannya yang lain, setiap tugas yang diberikan oleh dosennya dapat dikerjakan dengan sangat maksimal dan sering mendapatkan pujian. Ia sangat dikenal baik pula oleh banyak kakak tingkat juga teman satu angkatannya. Karena ia memiliki semangat dalam belajar yang utuh, kemampuan dalam melakukan sosialisasi yang baik dan nilai positif yang mencerminkan si “Boru Batak” yang memiliki kemurnian hati dari kebaikan.

Tidak perlu waktu yang lama untuk beradaptasi menemukan teman yang baik, Anthonia memiliki seorang sahabat yang bernama Tiurma Tio Rohanna Matondang, si Boru Batak yang sudah lahir dan besar di Ibukota, anak seorang Pengacara kelas bintang 5 yang memiliki kantor hukum yang sangat besar di Ibukota. Sangat berbeda rasanya dengan Anthonia, Tiurma sama sekali tidak memahami bahasa Batak, padahal ia memiliki rangkaian nama berbahasa Batak. Dan sementara itu, saat Anthonia menjelaskan bahwa nama Tiurma artinya adalah “Bercahayalah dengan hati bersih” sesuai pengartian ke Bahasa Indonesia dan tafsiran makna oleh Anthonia, seketika Tiurma tertawa terbahak-bahak. “Yang benar nama gue artinya itu?”, tanya si Boru Batak Ibukota itu. “Ia Tiurma, ibu aku namanya Tiur Hasianna, Aku lahir dan besar dilingkungan orang Batak, dalam keluarga inti kami selalu memakai bahasa Batak sebagai bahasa komunikasi. Mana mungkin Aku tidak tahu mengartikan nama kamu yang memakai bahasa Batak”. Tegas Anthonia. “Ya udah, nanti gue mau video call sama opung doli gue deh di Samosir. Gue mau nanya arti nama gue ke opung, soalnya gue dikasih nama sama opung doli Samosir gue.” Tambah Tiurma, si gadis Batak campuran karena Ibunya adalah seorang Sunda asli yang bertemu dengan ayah Tiurma saat bekerja sebagai staff magang di kantor hukum. Tiurma, sangat sering bercerita kepada Anthonia mengenai keluarga Bataknya. Terkadang Anthonia tertawa saat Tiurma berusaha untuk mengajaknya menyanyikan lagu percintaan bahasa Batak, terutama saat Tiurma berkata bahwa ia ingin menikah dengan pria asli Batak yang bekerja sebagai Pengacara seperti ayahnya suatu saat nanti. Tak lupa, Anthonia pun sering mengajak Tiurma untuk bernyanyi lagu “Namboru Panjaitan”, yang tinggal di Siborong-borong.

Seiring dengan terjadinya suka duka didalam kehidupan dua sahabat ini, mereka berusaha untuk belajar dengan sungguh-sungguh dan penuh antusias. Setiap libur semester mereka memakai waktu untuk magang di kantor pengacara lewat jaringan ayah Tiurma, mengikuti berbagai lomba hukum yang menghantarkan nama mereka dikenal ditingkat fakultas bahkan universitas hingga menjadi “Juara pada ajang mahasiswa berprestasi”. Hingga pada akhirnya mereka mampu lulus dengan tepat waktu selama 3,5 Tahun. Hal ini sangat menginspirasi banyak orang, terutama karena mereka mampu mengharumkan nama almamater.

Saat sudah lulus kuliah, ayah Tiurma yang melihat bahwa Anthonia memiliki potensi dalam bidang hukum dan layak mendapatkan wadah untuk berkembang, mengajak Anthonia untuk bekerja sebagai staff magang dan dalam waktu 2 tahun dijanjikan akan menjadi pengacara terkenal dan akan dididik sampai mapan jika mau bekerja di kantor hukum ayah Tiurma. Namun, dengan kerendahan hati yang sebenarnya sangat bersukacita saat diberi tawaran menarik oleh seorang pengacara Ibukota, Anthonia memutuskan untuk tidak menerima tawaran ayah Tiurma dengan kata-kata yang baik. Alasannya bukanlah karena Anthonia merasa superior dengan ajakan ayah Tiurma itu, melainkan karena ia ingin mengejar mimpinya menjadi seorang jaksa yang melakukan penyidikan terhadap kasus pidana, seperti kasus pembunuhan berencana yang dilakukan terhadap almarhum ayah Anthonia.

Tahun berganti, kehidupan yang diharapkan Anthonia lewat proses ketekunan yang ia cerminkan dari menjadi seorang “Boru Batak”, akhirnya berbuah manis. Ia resmi dilantik menjadi seorang Jaksa, ibunya sangat bangga dengannya, kebahagiaan seketika melingkupinya saat opung dolinya hadir pada saat pelantikannya dan memeluknya dengan erat, sambil berkata “lanjutkan pada proses berikutnya”.

Segalanya telah berubah, harapan dan doa yang dijaga oleh Anthonia telah berbuah layaknya pohon yang subur sehingga dapat dipanen tepat waktu. Penempatan Anthonia menempatkan dirinya pada lokasi strategis, yaitu di kejaksaan yang berada di kampung halamannya. Ia pun menggunakan kesempatan itu, untuk membuka lagi kasus  ayahnya. Lewat kerja keras yang ia tanamkan dalam dirinya, berusaha berkoordinasi dengan baik terhadap tim kerjanya, membahas kembali riwayat kasus yang sudah terjadi, pada akhirnya sudah terlihat dengan jelas secercah harapan akan siapa yang bertanggung jawab atas terjadinya kasus pembunuhan berencana ayah Anthonia.

Pada akhirnya, terbuktilah kepada publik bahwa yang telah menghilangkan nyawa ayah Anthonia adalah sahabat ayahnya sendiri, yang bernama Torang Sinaga. Tidak lain, ia adalah seorang polisi yang berlaku seperti pahlawan dihari lenyapnya nyawa Anthonia. Ternyata, ia adalah orang suruhan dari seorang tengkulak yang merasa tersaingi oleh ayah Anthonia, yang sangat berperan membuka cakrawala masyarakat dalam sektor pertanian. Dalam menunggu proses persidangan, Anthonia tidak langsung puas dengan hasil investigasinya. Ia pun tetap bergerak untuk menemukan fakta baru, yang akan mengubah segala hal dalam hidupnya.

Tentang Penulis

Ana Stefani Simamora, Lahir di P. Siantar, 19 September 2002. Mahasiswa S1 Ilmu Hukum ini mengambil Konsentrasi Hukum Bisnis di Universitas Udayana Bali. Ia juga merupakan awardee Beasiswa Karya Salemba Empat (KSE), serta aktif dalam kepengurusan komunitas dan organisasi, yang lantas tak membuatnya lupa akan hobi dan impiannya. Menulis adalah menjejak aksara dan bebagi cerita indah tentang pengalaman. Ia merupakan Pebisnis muda disektor kosmetik dan kuliner di Bali. Selain menulis, ia sangat suka dunia musik dengan bermain biola, bernyanyi, serta aktif dalam kegiatan volunteer Nasional dan Internasional yang dampaknya untuk masyarakat global.

Saat ini penulis berdomisili di Medan. Pembaca bisa lebih dekat dengan penulis lewat akun sosial media Instagram (@ana_stesi)

WhatsApp: 081362395687

 

 

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Easy Tips and Tricks To Get Karya Salemba Empat (KSE) Scholarship for Bachelor Degree (Part I: Understand this before you register and follow the selection process - Pahami ini sebelum Anda mendaftar dan ikuti proses seleksinya)

Part II Tips or Tricks? Get Your Position as Awardee: Lancar Jawab Interview Siapa Takut?

"Easy Tips and Tricks To Get Karya Salemba Empat (KSE) Scholarship for Bachelor Degree" (Part I: Understand this before you register and follow the selection process - Pahami ini sebelum Anda mendaftar dan ikuti proses seleksinya)